
Lucu dan imut, itulah kesan pertama kali saat saya melihat anak maleo yang baru menetas. Namun hal yang lebih mengesankan dan membuat saya terkagum-kagum adalah saat melihat proses si anak maleo keluar dari dalam tanah setelah melewati masa “pengeraman”. Rasa kagum itu semakin bertambah begitu melihat si anak maleo yang baru saja mencapai permukaan tanah tersebut ternyata sudah bisa terbang. Ya, terbang. Tak seperti layaknya anak unggas pada umumnya yang butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa terbang. Begitulah keistimewaan anak maleo.
Namun siapa sangka, di balik kelucuan dan istimewaannya, si anak maleo ternyata memikul beban yang begitu berat nyaris setelah ditetaskan. Tanpa kehadiran sang induk saat matanya pertama kali melihat dunia ini, tanpa bimbingan sang induk untuk mencari makan dan terbang, tanpa perlindungan sang induk di saat bahaya menghampiri, bahkan, untuk keluar dari cangkang dan muncul ke permukaan bumi ini pun mereka harus berjuang sendiri.
Tak jarang diantara mereka dijumpai mati saat dalam “perjalanan” mencapai permukaan tanah, terkadang mereka dijumpai dengan kepala yang sudah nongol di permukaan tanah, tapi sudah mati dikerumuni semut. Terkadang pula mereka dijumpai berhasil mencapai permukaan tanah namun sudah tanpa kepala di badan. Paling tidak, begitulah sedikit gambaran penderitaan dan perjuangan yang harus dilalui oleh anak maleo.
Postingan kali ini, saya akan coba memberikan sedikit gambaran “perjuangan” si anak maleo mulai dari telur hingga menjadi anak maleo yang siap bertarung dalam ganasnya kehidupan di muka bumi ini.
Setelah maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang, maka secara bergantian atau bersamaan kedua induk maleo (jantan dan betina) menimbun telur tersebut dan kemudian membuat timbunan tipuan (untuk mengelabui pemangsa). Berbeda dengan jenis-jenis unggas lainnya, Maleo tidak mengerami telurnya. Pengeraman telur dibantu oleh panas bumi atau panas dari sinar matahari.
Keberhasilan penetasan akan sangat bergantung pada temperatur/suhu tanah. Hasil-hasil penelitian menginformasikan bahwa suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius.
Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari. Namun pernah juga tercatat ada telur yang menetas kurang atau malah lebih dari kisaran waktu tersebut.
Saat waktu yang tepat tiba, telur pun pecah dan anak maleo akan keluar. Anak maleo yang baru menetas harus keluar sendiri ke permukaan tanah tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Inipun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati “ditengah jalan”. Tanah yang terlalu padat, akar-akan pohon yang terlalu rapat, lubang yang di gali terlalu dalam diduga menjadi faktor penyebab si anak maleo kehilangan banyak energi (kelelahan) hingga mengakibatkan kematian. sebelum mencapai permukaan tanah.

Lolos dari perjuangan panjang di dalam tanah, begitu kepala si anak maleo muncul ke permukaan, bahaya lain pun sudah menanti. Semut. Barangkali karena bulu-bulunya yang masih basah (dan bau amis telur) sehingga menarik perhatian semut mendatanginya. dan tak ada ampun lagi bagi si anak maleo yang kondisi sebagian badannya masih terhimpit tanah, akhirnya pasrah digerogoti semut. Kematian pun tak bisa terelakkan lagi. Terkadang tubuh lemahnya (setelah melalui perjalanan panjang di dalam tanah) harus dia pasrahkan untuk seekor tikus yang juga sedang menanti buruan.Sudahkah berakhir sampai disitu?
Ternyata belum. Di luar sana masih banyak bahaya menanti.
Soa-soa, adalah sebutan orang Sulawesi Bagian Utara bagi hewan bernama Biawak. Tentunya kita sudah tahu kalau hewan yang satu ini adalah pemangsa utama bagi hewan peliharaan seperti ayam, begitu pula dengan maleo. Soa-soa adalah musuh utama bagi maleo. Selain mereka memangsa anak maleo, mereka pun adalah predator utama bagi telur maleo (selain manusia). Karena kemampuan penciuman mereka yang sangat tajam sehingga dengan mudah mereka menemukan telur maleo yang sudah tertimbun tanah sekalipun.
Bahaya lainnya datang dari burung pemangsa (seperti Elang). Lokasi peneluran maleo yang sebagian besar merupakan daerah terbuka, sangat memudahkan bagi burung elang untuk mengintai mangsanya. Anak maleo yang masih lemah pun menjadi sasaran empuk mereka.
Belum lagi bahaya dari ular, atau bahkan manusia. hmmm… Sepertinya perjalanan si anak maleo menuju kedewasaan menghadapi perjuangan yang sangat berat. Tapi bukankah Tuhan telah menciptakan mahluknya dengan keistimewaannya masing-masing?
-
1
Pingback on Apr 2nd, 2008 at 9:56 am
[...] Ikuti terus kisahnya denganĀ meng-klik gambar di atas. Bagi anda yang pernah membaca kisahnya di site maleo, sekarang anda bisa mendapatkan tulisan selengkapnya + [...]
-
2
Pingback on May 14th, 2008 at 9:39 am
[...] Di beberapa bagian kepela juga sudah berlubang. Mungkin juga karena semut. Boleh jadi, bau anyir dari tubuhnya telah mengundang perhatian semut datang menggerogotinya. Seperti halnya kisah si anak maleo [...]
May 4, 2007 at 6:39 am
Salam kenal, saya atik di Jogja.
Maleo pertamaku adalah tahun kemaren, 2006. Itu yang pertama dan yang terakhir sampai saat ini. Ketika mendapat kesempatan mengunjungi TN Lore Lindu tepatnya di Desa Pakuli. Disana ada penetasan burung Maleo semi alami. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, melihat maleo dari dekat di habitat aslinya. aku bilang Burung ini adalah Pejuang Sejati, karena dari kecil saja sudah harus berjuang sendiri. sedih sekaligus tersenyum, ketika tau dulu kakakku sering membuat roti dari telur maleo. kalo sekarang sih…..gak lagi. semoga bisa berkunjung dan membuktikan apa yang anda diceritakan sekalian birdwatching. bagaimana dengan burung alo?
May 14, 2007 at 1:51 am
Saya senang Mbak Atik bisa menyaksikan langsung perjuangan anak maleo yang baru saja menetas. Semoga di kali yang lain Mbak Atik bisa berkunjung ke tempat kami di Dumoga. Kalo ada rencanan datang, jangan ragu menghubungi saya.
July 30, 2007 at 2:03 am
asli………….keren abis
jadi inget pelajaran tentang kiwi nih
secara bentuk rada mirip trus suka dibanding2in ma ayam he3
and status langkanya pun sama hiks3
jangan di biarin
November 27, 2007 at 2:07 pm
hiks3x,menyedihkan….
January 5, 2008 at 10:08 am
artikelnya keren:)
saya belum pernah melihat burung maleo, tapi telurnya sudah. gila, emang gede banget!
beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi suaka margasatwa bakiriang, banggai, sulawesi tengah. niatnya sih ingin melihat burung maleo bertelur. tapi saya sedang tidak beruntung. maleo tak kunjung turun, sehingga saya pun harus puas hanya dengan mellihat telur dan gambar burung malei dri baju batik kab banggai.
wah…ternyata keren juga ya, kisah perjuangan maleo semenjak menetas sampai berhasil hidup. saya jadi sedih kalo ingat telur-telur ‘pejuang’ itu nasibnya justru banyak yang berakhir di penggorengan.
Selain itu ada lagi yang bikin saya sedih. penjaga SM, kakek/tetek jalil bilang kalau dulunya burung maleo yang datang bertelur di sana jumlahnya masih banyak. tapi sekarang jumlahnya sudah banyak berkurang.
pertama karena banyaknya pemburu, baik pemburu telur maupun pemburu burung maleo itu sendiri. ini penyebab utama populasi maleo jadi menurun.
trus yang kedua, karena pohon-pohon kayu angin (pinus) di sekitar pasir tempat mereka bertelur sudah banyak yang ditebangi. Hal ini membuat maleo merasa tidak aman lagi untuk bertelur di tempat yang terbuka.
Yang membuat saya sedih, mengapa untuk suaka margasatwa yang melindungi hewan selangka maleo, ditempatkan seorang penjaga yang sudah tua? seorang kakek-kakek yang sudah melewati usia pensiunnya.
memang sih, penjaganya tentu bukan hanya beliau seorang. tapi beliaulah yang menjaga titik sentral penangkaran alami tersebut.
secara logika sederhana saja, kalau ada pemburu dengan alat yang canggih, badan yang lebih tegap, umur yang lebih muda, tentu saja sang kakek bukan tandingannya. bukan tak jarang pula, pemburu tersebut datang sebagai pemburu baik-baik, yang sowan dan berdiplomasi secara halus, sehingga telur burung pun bisa diangkut banyak-banyak asalkan bayaran cukup..
May 2, 2008 at 5:21 am
MALEO ITU MENURUT SAYA HEWAN YANG BAGUS BANGET
May 25, 2008 at 5:47 am
Keren banget, Kalau bisa lebih banyak lagi, sebab ku palin senang dengan yang seperti ini
June 8, 2008 at 11:15 am
Ajakan untuk semua blogger Indonesia :
Ayo kita berikan suara dukungan (vote secara online) buat tiga obyek wisata alam Indonesia, yaitu Danau Toba, Taman Nasional Komodo, dan Gunung Krakatau; yang saat ini sedang “bersaing” untuk terpilih masuk TUJUH KEAJAIBAN ALAM.
Pemilihan sedunia ini diikuti oleh 77 obyek wisata alam di berbagai negara, termasuk Niagara Falls (AS), Fuji (Jpn), Great Barrier Reef (Aut). Persaingan sangat ketat, karena penduduk yang sudah “melek” internet lebih banyak di dunia barat.
Namun sementara ini kedudukan teratas ditempati Halong Bay (Vietnam). Boleh jadi karena banyak orang AS yang kenal daerah itu.
Tiga obyek wisata Indonesia saat ini masih terseok-seok di papan tengah. Ayo berikan suara agar wakil-wakil Indonsia ini terpilih menjadi TUJUH KEAJAIBAN ALAM.
Info selengkapnya, silakan klik link di bawah ini :
http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/06/dukung-danau-toba-agar-masuk-tujuh-keajaiban-alam/
terima kasih
September 4, 2008 at 5:42 am
ada anak burng d rumah saya, saya ambil trus dikasih makan apa ya? saya kasih susu tawar aja..
REPLY SOON.. bingung nihh daripada mati kan kasian
September 22, 2008 at 2:07 pm
perbanyak tempat pelestarian maleo
September 22, 2008 at 2:09 pm
bagus nambah pengetahuan saya
December 20, 2008 at 5:14 am
Thanks atas tulisannya…
saya sangat kagum akan burung ini, hingga sebuah tugas akhir study saya namakan “MaleoAV”. Berharap kekuatan dan semangat hidupnya akan mengilhami apa2 yang telah saya buat.
Salam kenal dari saya
January 9, 2009 at 2:19 pm
keren sekali perjuangan burung Maleo kasihan sekali ! Semoga burung Maleo tidak punah, semakin banyak, dan dia diberi perjuangan yang tinggi agar ia slalu menetas dengan sempurna
March 24, 2009 at 5:15 pm
Dulu saya pernah liat burung maleo di tv7 (skrg trans7).
Harus dilestarikan tu
bahkan kalo bisa di buat pembibitan massal aja
tar kan jd banyak,
coba bayangin kalo setiap rumah tangga piara maleo seperti halnya ayam kampung
sebenarnya bkn cm maleo
banyak burung laen
kasuari misalnya telurnya gede, kulitnya tebal, badannya besar bs sampe 75kg
bayangin kalo tukang ojek piara kasuari
pasti bs nambah pendapatan
pasti sangat bermanfaat kl burung2 asli indonesia gitu di konservasi bahkan dibibitkan massal
trims yg sdh baca
alam_later@yahoo.co.id
April 28, 2009 at 4:19 pm
begitu membaca artikel ni… ternyata burung maleo menjadi langka karena seperti itu tho kisahnya…
yang sejauh saya tahu dulu dari dulu… burug maleo langka karena induknya yang bertelur setengah mati…karena ukuran telur yang besar dan ukuran induk yang kecil sehingga sang induk pingsan setelah bertelur….
setelah membaca artikel diatas memang ternyata banyak faktoryang membuat burung maleo langka dan dilindungi…
Saya tertarik dengan artikel ini karena nama saya adalah Maleo
Yacobus maleo, nama dari orang tua saya…..
memang ternyata hidup sayapun juga harus mengalami hal2 seperti itu perjuangan yang sangat, untuk melanjutkan hidup ini.
BTW makasih atas artikel yang telah dimuat ini.